Skip to main content

Inilah Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap)

Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) merupakan sebuah history singkat tentang asal usul daerah yang dikenal sebagai bumi nene mallomo yang kebetulan kabupaten ini adalah daerah dimana admin lahir dan dibesarkan, jadi selain memuat sejarah daerah penulis juga sebagai catatan pribadi dalam rangka mengingat dan mengetahui asal usul kabupaten sidenreng rappang (Sidrap), kan sangat memalukan jika kita tidak mengetahui sejarah daerah sendiri, maka dari itu postingan ini dihadirkan.
Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kekayaan Alam, Sejarah dalam bahasa bugis, peta kecamatan dan logo serta data pemerintahan Sidrap

Kabupaten Sidenreng Rappang atau biasa dikenal dengan Kabupaten Sidrap, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi yang terletak kira-kira 183 Km di sebelah Utara Kota Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan). Secara astronomis, Kabupaten Sidrap terletak antara 3°43’-4°09’ Lintang Selatan dan 119°41’-120°10’ Bujur Timur, masing-masing berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang, Sebelah Timur : Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo, Sebelah Selatan : Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng, Sebelah Barat : Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang

Wilayah Admnistrasi Kabupaten Sidenreng Rappang dengan luas 1.883,25 Km2 terbagi dalam 11 Kecamatan dan 106 Desa/Kelurahan.

Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap)


Cikal Bakal terbentuknya Kerajaaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang sebagaimana Lazimnya dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dari berbagai Referensi, Fakta dan Sejarah disebutkan dalam 2 (Dua) versi yakni :

Versi Pertama berasal dari “TO MANURUNG” yaitu manusia yang dikirim “DEWATA SEUWAE” kesuatu daerah yang belum tertata baik pola perilaku dan sendi-sendi pranata sosialnya serta relative belum memiliki kearifan local dalam membina kebersamaan dan persatuan. Menurut Versi ini, “ADDAOWANG SIDENRENG PERTAMA” adalah manurungnge ri Bulu Lowa, yang telah mangkat digantikan oleh anaknya yaitu “SUKKUNG PULAWENG” sebagai Raja Ke-II (Dua), yang kemudian kawin dengan “WE PAWAWOI ARUNG BACUKIKI” Putri Labengnge Manurungnge Ri Bacukiki, dari perkawinannya dengan “WE TIPU LINGE ARUNG RAPPANG KE-I (Pertama)”.

Versi Kedua yang termuat dalam lontarak “MULA RITIMPAKNA TANAE RI SIDENRRENG” menyebutkan bahwa asal muasal Raja di Sidenreng dan Rappang berasal dari Tana Toraja keturunan “RAJA SANGALLA” yang terdiri dari : 1) LA MADDAREMMENG; 2) LA WEWANGRIWU; 3) LA TONGELLIPU; 4) LA SAMPOI; 5) LA PAKOLONGI; 6) LA PABABARI; 7) LA PANAUNGI; 8) LA MAPPASESSU; 9) LA MAPPATUNRU.
Gerbang Monumen Ganggawa Sidrap di Pangker Pangkajene

Karena ketidak sepahaman dengan anak Pertama LAMADDAREMMENG, maka ke-8 (Delapan) keturunan Raja Sangalla yang lainnya sepakat meninggalkan kampong halamannya, kemudian ketika tiba dikampung kaju suatu tempat antara Banti di Baraka dengan Bunging Riase di Maiwa, mereka melihat hamparan air diarah selatan lalu menuruni gunung dan akhir tiba di suatu lembah yang sebelah baratnya digenangi air yang ternyata adalah DANAU.

Kemudian merekapun “SIRENRENG-RENRENG ARUWA MAPPADAROAWANE” (saling bergandengan tangan kedelapan bersaudara). Setelah memenuhi kebutuhannya dan menikmati keindahan Danau, maka mereka bersepakat dan mengemukakan bahwa “OKKONI’E RI ORAI TAPPARENG MADECENG PADA MONRO”, yang artinya sebaiknya disebelah barat danau inilah kita tinggal dan membuat perkampungan. Mulai pada saat itu, mereka bermukim di suatu tempat yang dinamai “SIDENRENG” sebab disitulah mereka “SIRENRENG-RENRENG” mencari jalan ketepi Danau, dan Danau itu disebut “DANAU SIDENRENG”. Daerah ini tereletak disebelah utara Sidenreng disebut “EMPAGAE”.

Seiring dengan berjalannya waktu “DATU PATINA” yang mengasingkan diri kesuatu tempat yang jauh, lalu mempersunting cucu Raja Sangalla atau Putri Sulung La Maddaremmeng bernama “WE BOLONG PATTINA”. Tidak lama berselang Datu Patila kemudian bermukim di Rappang dan menjadi RAJA DI RAPPANG dan WE BOLONG PATTINA menjadi ADDAOWANG SIDENRENG YANG PERTAMA. Addaowang Sidenreng Pertama WE BOLONG PATTINA di karunia anak Pertama seorang Perempuan yang bernama WE TIPU ULENG, yang menjadi RAJA DI SIDENRENG sebagai ADDAOWANG. Sedangkan anak Keduanya bernama LA MALLIBURENG, menjadi RAJA DI RAPPANG.

Pada masa kepemimpinan WE TIPU ULENG, rakyat Sidenreng tidak menginginkan di Perintah oleh seorang Perempuan, kemudian pada saat bersamaan pula Kepemimpinan LA MALLIBURENG di Rappang tidak diinginkan oleh masyarakat Rappang disebabkan berbagai hal. Oleh karena itu, masyarakat Rappang menghadap Raja Sidenreng WE TIPU ULENG, memohon agar berkenan menjadi Raja Rappang, bertukar dengan adiknya LA MALLIBURENG.

Sehingga mulai pada saat itu Rappang di Perintah oleh WE TIPU ULENG dengan gelar “PETTA’E RAPPENG” dan Sidenreng di Perintah oleh LA MALLIBURENG dengan gelar “ADDAOWANG SIDENRENG”. Karena kerajaan Rappang di Pimpin oleh seorang Perempuan, maka untuk pelaksanaan tugas sehari-hari dilaksanakan oleh “SULEWATANG” sebagai pengganti diri Raja dan dibantu oleh Kadhi dan Pabbicara.

Pada saat kedua Bersaudara bertukar Wilayah Kerajaan, PETTA’E RAPPANG dan ADDAOWANG SIDENRENG keduanya mengadakan perjanjian dengan ikrar sebagai berikut “MATE ELE’I RAPPENG, MATE ARWENGNGI SIDENRENG, LETTU PADDIMONRINNA TEPPINRA-PINRA” yang berarti “ KALAU RAPPANG MATI DI PAGI HARI, MAKA SIDENRENG AKAN MENYUSUL PADA SORE HARINYA SAMPAI KEMUDIAN HARI TIDAK BERUBAH SEDIKITPUN”.
Monumen Ganggawa Sidrap di Pangker Pangkajene

Hal ini merupakan ikrar sehidup semati yang dipegang teguh setiap Raja atau Arung yang memerintah pada kedua Kerajaan tersebut. Meskipun demikian, Kedua Kerajaan ini memiliki perbedaan mendasar di dalam system Pemerintahannya masing-masing sebagai berikut “KERAJAAN SIDENRENG YANG MANGANUT SISTEM PEMERINTAHAN DARI ATAS KEBAWAH” yang dalam bahasa bugisnya dikenal dengan istilah “MASSORONG PAWO” dan “KERAJAAN RAPPANG YAG MENGANUT SISTEM PEMERINTAHAN DARI BAWAH KEATAS” yang dalam bahasa bugisnya dikenal dengan istilah “ MANGELLE PASANG”.

Mengacu pada Lontarak “MULA RITIMPAKNA TANA’E RI SIDENRENG” dan buku sejaraj Sidenreng Rappang diungkapkan bahwa kerajaan Sidenreng lahir lebih awal dari kerajaaan Rappang, sehingga titik tolak perhitungan tahun terbentuknya Sidenreng Rappang berpedoman pada Pemerintahan Raja Pertama Sidenreng.

Oleh karena tertulis dalam Lontarak , hanya catatan pada masa Pemerintahan mulai saat masuk islam di Sidenreng, yaitu pada Pemerintahan Addaowang Sidenreng Ke-10 (sepuluh) LA PATIROI atau LA PAGALA yang lebih dikenal dengan nama “NENE MALLOMO” yang memimpin selama 26 (Dua Puluh Enam) tahun, mulai tahun 1605 sampai dengan tahun 1631.

Dengan mengantarkan Kerajaan Sidenreng berinteraksi dengan Kerajaan lain di Jazirah Sulawesi, yang salah satu pernyataannya hingga kini masih dikenang, yakni “ ADE’E TEMMAKIANA’ TEMMAKIAPPO” yang berarti Adat dan Aturan tidak mengenal Anak atau Cucu, dengan kata lain tidak Pandang Bulu.

Pada masa Pemerintahan dari Raja Ke-10 sampai akhir masa Pemerintahan Raja Ke-21 (Dua Puluh Satu) yakni LA CIBU yang menjadi Pemimpin mulai Tahun 1909 sampai Tahun 1949. Dari semua perhitungan Kepemimpinan antara Raja I (Pertama) hingga Raja Ke-9 (Sembilan) di Rata-Ratakan untuk setiap Raja dengan masa Kepemimpinan selam 29 (Dua Puluh Sembilan) Tahun. Sehingga di Peroleh perhitungan masa Pemerintahan Raja I (Pertama) hingga Raja Ke-9 (Sembilan) adalah selama 261 (Dua Ratus Enam Puluh Satu) Tahun.

Berpatokan pada Tahun 1605, ditarik mundur dalam rentang waktu 261 (Dua Ratus Enam Puluh Satu) Tahun di peroleh angka Tahun 1344 (Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Empat) ditetapkan sebagai awal berdirinya KERAJAAN SIDENRENG. Oleh karena tidak ditemukannya Referensi mengenai tanggal terbentuknya Kerajaan Sidenreng atau Kerajaan Rappang, maka dilakukan pendekatan Filosofis bahwa Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang adalah Bersaudara, sehinggan penentuan tanggalnya didasari, bahwa :
Sejarah Kabupaten Sidrap : Monumen Andi Cammi

1. Dari kesembilan anak Raja Sangalla yang menjadi perintis “RI TIMPA’NA TANA’E RI SIDENRENG”, 1 (satu) orang Saudara tertuanya mengalami kerinduan dan mencari 8 (Delapan) Saudaranya di Sidenreng, setelah mereka bertemu kemudian memohon maaf atas segala sikap dan perilaku yang menyebabkan adiknya meninggalkan kampong halaman.

Dengan penuh ikhlas ke 8 (Delapan) adiknya menerima permohonan maaf kakaknya dan memohon agar kakak tertuanya tinggal di Sidereng, sehingga mereka dapat hidup bersama lagi dan tidak berpisah, denganmenggabungnya 1 (satu) orang kakak tertua mereka dengan ke 8 (Delapan) adiknya, hal ini menggambarkan pertautan angka 1 dan 8 menjadi angka 18 (Delapan Belas).

2. Pada masa Kerajaan terdapat 14 (Empat Belas) ARUNG dan 4 (Empat) PABBICARA, sehingga jika digabung maka angkanya menjadi 18 (Delapan Belas).

3. Kemuadian Tanggal Pelantikan Bapak H. ANDI SAPADA MAPPANGILE sebagai Bupati Sidenreng Rappang yang Pertama yakni Tanggal 18 (Delapan Belas). Seperti halnya dengan penentuan Tanggal terbentuknya Sidenreng Rappang, maka penentuan Bulannya ditetapkan berdasarkan Bulan Pelantikan H. SAPADA MAPPANGILE sebagai Bupati Sidenreng Rappang yang Pertama Yakni Bulan Pebruari.

Dari Uraian tersebut, dengan jelas telah tergambar bahwa keberadaan Sidenreng Rappang terbentuk pada tahun 1344 Bulan Pebruari Tanggal 18 atau jelasnya 18 Pebruari 1344, sebagaimana penetapan secara bersama Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang, yang termuat di dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Hari Jadi Sidenreng Rappang.

Selanjutnya memasuki masa pemberlakuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II Di Sulawesi, Kewedanan Sidenreng Rappang dan Swapraja Rappang dibentuk menjadi Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang dengan Pusat Pemerintahannya berkedudukan di Pangkajene Sidenreng yang meliputi 7 (Tujuh) Wilayah Kecmatan yaitu :

1) KECAMATAN DUA PITUE;

2) KECAMATAN MARINTENGNGAE;

3) KECAMATAN PANCA LAUTANG;

4) KECAMATAN TELLU LIMPOE;

5) KECAMATAN WATANG PULU;

6) KECAMATAN PANCA RIJANG DAN

7) KECAMATAN BARANTI.

Untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi, maka terbitlah Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U.P.7 / 37-374 Tanggal 28 Januari 1950 yang menetapkan “H. ANDI SAPADA MAPPANGILE” sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang yang Pertama, dan pelantikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, Tanggal 18 Pebruari 1960.

Sejak terbentuknya Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang, hingga saat ini secara Kronologis Pimpinan Daerah dapat dikemukakan sebagai berikut :

A. BUPATI DAN WAKIL BUPATI MASING-MASING :

1. H. ANDI SAPADA MAPPANGILE (1960 – 1966)

2. H. ARIFIN NU’MANG (1966 – 1978)

3. H. OPU SIDIK (1978 – 1988)

4. H. M. YUNUS BANDU (1988 – 1993)

5. Drs. A. SALIPOLO PALLALOI (1993 – 1998)

6. H. S. PARAWANSA, SH (1998 - 2003) Drs. H. A. M. RIDWAN, M. SI (WAKIL BUPATI)

7. H. ANDI RANGGONG (2003 – 2008) H. MUSYAFIR KELANA ARIFIN NU’MANG (WAKIL BUPATI)

8. H. RUSDI MASSE (2008 – 2013) Ir. H. DOLLAH MANDO (WAKIL BUPATI)

9. H. RUSDI MASSE (2013 – 2018) IR. H. DOLLAH MANDO (WAKIL BUPATI)

10. Ir. H. DOLLAH MANDO (2019 - 2024) Ir. H. MUHAMMAD YUSUF (WAKIL BUPATI)

B. KETUA DPRD, MASING-MASING :

1. H. LAPADDONG DG BANGUNG (1961 – 1964)

2. A S A P E (1965 – 1966)

3. M. ASAP DALLE (1966 – 1971)

4. ANDI SINRANG DJAGO (1971 – 1977)

5. H. ANDI MAPPEJEPPU, BA (1977 – 1982) (1982 – 1987)

6. Drs. H. SAIRING DJAFAR (1987 – 1992) (1992 – 1997)

7. H. SYAMSUDDIN MASSA (1997 – 1999)

8. H. ANDI RANGGONG (1999 – 2003)

9. H. ANDI BAGENDA ALI (2003 – 2009)

10. A. SUKRI BAHARMAN, SE (2009 – 2014)

Dalam Perkembangan selanjutnya, dengan pertimbangan efektif pelaksanaaan pemerintahan, Ke-7 (Tujuh) Kecamatan tersebut dimekarkan menjadi sebelas kecamatan sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang Nomor 10 Tahun 2000 Tentang pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan, maka :

1. Kecamatan Dua PituE dimekarkan menjadi tiga yaitu Kecamatan Dua PituE, Kecamatan Pitu Riase dan Kecamatan Pitu Riawa.

2. Kecamatan MaritnengngaE dimekarkan menjadi Dua Yaitu Kecamatan MarintengngaE dan Kecamatan Sidenreng.

3. Kecamatan Panca Rijang dimekarkan menjadi Dua yaitu Kecamatan Panca Rijang dan Kecamatan Kulo.
Monumen Bambu Runcing yang terletak di Rappang

Kabupaten Sidenreng Rappang adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki luas 189.808,70 km2. Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan gabungan Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang yang pada itu tergabung dalam swapraja Pare-pare. Kabupaten Sidenreng Rappang terkenal sebagai salah satu dari beberapa daerah penghasil pertanian terbesar di Indonesia dan terletak 183 km utara Kota Makassar.

Kabupaten Sidenreng Rappang berbatasan dengan Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Enrekang di sebelah Utara, Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo di sebelah timur, Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng di sebelah selatan dan Kabupaten Pinrang dan Pare-pare di sebelah barat.

Corak Budaya yang ada di Sidrap

Etnik asli di Sidenreng Rappang adalah Suku Bugis sehingga corak budaya yang dominan yaitu budaya Bugis. Sidenreng Rappang memiliki beberapa ekspresi kebudayaan yang khas diantaranya Pakkacaping, Tari Marellau Pammase Dewata (Tari Padduppa),Padendang, Maccera Tappareng, Tudang Sipulung (Musyawarah untuk mufakat), dan ritual adat kepercayaan komunitas masyarakat To Wani To Lotang (massempe, mappenre nanre, lao sipulung, dan lain-lain).

Sidenreng Rappang memiliki beberapa eksperesi kebudayaan yang merupakan hasil akulturasi dengan berbagai kebudayaan yang lain diantaranya: perpaduan Bugis-Arab dalam bentuk music dan tari Jeppeng, mappanre temme (Khatam Qur’an),perpaduan Bugis-Cina dalam bentuk sebagian aksesoris pengantin seperti gelang/potto model naga.

Objek Pemajuan Kebudayaan di Sidrap

MANUSKRIP ; Manuskrip yang terdapat di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah satu bilah bambu kering ukuran panjang 40 cm dan Naskah Kuno Khotbah pertama di Mushallah Langgara Tungga.

TRADISI LISAN ; Tradisi lisan yang terdapat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Asal Mula Nama Sidenreng, Tau Accana SIdenreng, Pejuang Usman Balo, La Monri Putra Bungsu Bulucenrana, Nenek Mallomo, La Welle, Nenek Pakande, Meongpolo Bolongngede dan Sang Ayang Sri, Asal Mula Lahirnya Tanru Tedong serta La Buta dan La Peso.

ADAT ISTIADAT ; Adat istiadat yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam, dan persembahan. Adat istiadat tersebut diantaranya adalah Tudang Sipulung, Maccera Tappareng, dan Upacara Adat Tolotang.

RITUS ; Ritus yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Mappaci, dan Mappatettong Bola (mendirikan rumah panggung)

PENGETAHUAN TRADISIONAL ; Pengetahuan tradisional masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya berkaitan dengan obat-obatan.

TEKNOLOGI TRADISIONAL ; Teknologi tradisional yang terdapat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah pembuatan alat rumah tangga, pembuatan Kecapi Bugis Sidrap dan Kerajinan Batu Ukir.

SENI ; Kesenian masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Cule Cule To Riolo, Manu Gagak (Ayam Ketawa), Paduppa (Marellau Pammase Dewata), Padendang, Bosara, Massempe Ri Parinyameng, pettenung, Pakkacaping Sarapo, Cule-cule Pakkacaping dan Meong Palo Karelle.

BAHASA ; Bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang adalah Bahasa Bugis.

PERMAINAN RAKYAT ; Permainan rakyat masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Mappolo Becceng, Maccubbu, Massempek, Mammencak, Mappadendang, Makkurung Manuk, Mallanca, Maccukke/ Maccengke, Maggasing dan Maggeccik.

OLAHRAGA TRADISONAL ; Olahraga tradisional masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Terompah Panjang, Patok Lele/ Maccukke, Egrang/Malonggak, Gasing/Maggasing dan Tarik Tambang.

CAGAR BUDAYA ; Cagar budaya yang terdapat di Kabupaten Sidenreng Rappang diantaranya adalah Struktur Makam Syeh Keramat Padomai, Struktur Makam Nenek Petta Bolong Aje, Makam Puatta Punri Mojong, Langgara Tungga, Makam Korban 40.00 Jiwa Kulo, Makam Nene Mallomo, Makam Petta Soppo Batu, Bangunan Kolonial Belanda, Makam Andi Pajala Kitta.

Gimana Sobat daring, sudah tahu kan asal usul sidenreng rappang beserta penamaan hingga sejarah para hokagenya? Admin berharap semoga tulisan ini dapat memberi sumbangsi pengetahuan untuk anda, amin. Jangan lupa bagikan informasi tentang Inilah Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ke teman anda. Dapatkan update informasi langsung ke smartphone anda dengan mengikuti sidaring disini >> Follow
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar